Posted in Cerita Jalan

Mari Kita Ke Atap Sumatera!!!

Halo apa kabar kawan?

Haha bagi yang sering baca tulisan saya, rasanya basa-basi diatas selalu muncul di alinea pertama…itu juga kalau kamu perhatikan..iya kamu!!

Sebenarnya dalam kurun 3bulan ini saya sudah mulai muak dengan tulis menulis, hmm..sedang lebih memperbanyak membaca, lebih dan lebih. Akhirnya malam ini saya tergerak juga untuk kembali mengetik di blog yang penuh dengan sarang laba-laba ini hehehe…

Itu pun juga karena dipulangin cepet dari kantor terkait hasil capres dan cawapres. Ya saya sih berharap siapa aja yang menang, setidaknya bisa menurunkan harga alat-alat pendakian hihihihihi….

Ok..Saya mencoba mengingat asal muasal perjalanan ini, dimana ingatan saya udah sedikit agak kabur secara detailnya.

Masih ingat sahabat terbaik seperjalanan saya? iya Riski Septiadi atau biasa dikenal Iki, orang pertama yang akan saya ajak kemanapun perginya saya, entah nantinya dia akan ikut atau tidak, yang pasti dia orang pertama yang akan saya ajak dihampir seluruh perjalanan saya semenjak saya tergabung dikomunitas ini. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada yang lain, saya lebih senang mengajak Iki hanya karena saya merasa sahabat saya yang satu ini setipe dengan saya dalam mengartikan backpacker. Santai tapi ter-planning, entah apapun anggapan orang lain tentang backpacker, saya pribadi tidak peduli pendapat orang lain. Kalau kalian mulai gerah dengan propaganda ini, silahkan tekan tombol X atau close dikanan atas PC kalian. Tapi saya pastikan, kalian akan sangat rugi kalau tidak membaca cerita ini..eh tapii…

Bener ding…

Jangan baca tulisan ini, soalnya kalau kalian baca, kalian akan berpikiran yang sama lho dengan saya tentang backpacker

Jangan baca tulisan ini, soalnya kalau kalian baca, kalian bakal terus-terusan kangen sama saya ataupun tulisan saya

Jangan baca tulisan ini, soalnya kalau kalian baca, kalian akan kepo-in segala macam aktifitas saya deh

JADI SAYA KATAKAN SEKALI LAGI, JANGAN BACA TULISAN INI DARIPADA KALIAN KECANDUAN SAMA SAYA!!!

Hehehehe…

Seingat saya waktu itu bulan Februari 2014, saya ngobrol via WA dengan Iki tentang rencana untuk ditahun 2014 ini untuk lebih banyak city tour. Dan gayung pun bersambut, ternyata Iki juga punya planning yang sama di tahun 2014 ini. Namun saya belum memiliki tujuan kota mana yang akan saya kunjungi, seketika Iki mengusulkan Medan dan lanjut Padang. Hahaha waktu itu yang terpikir adalah, Iki baru saja bercerita tentang kenalan wanitanya yang berasal dari 2 kota itu dan menurutnya sih kece. Mungkin pikiran Iki jatuh kepada, dengan datang langsung kekota tersebut akan lebih banyak menemukan wanita kece lainnya hehehe

Tidak pikir panjang saya pun mengiyakan ajakan Iki.

Setelah itu kami beberapa kali menentukan destinasi untuk 2 kota itu dan akhirnya dengan dibantu wanita bernama Pebri yang saya juluki “ticket hunter”, kami pun memiliki tiket untuk rute Jakarta – Pekanbaru seharga 200rb, dengan tanggal keberangkatan 24 Mei 2014. Inilah salah satu cara mensiasati tiket murah, pesan dari jauh-jauh hari!!!!. Iki menginfokan pada saya bahwa dia mengajak sepasang temannya, bagi saya tidak ada masalah sama sekali. Yang artinya kami akan city tour sebanyak 4 orang. Kurang ajar..saya tetap tidur dengan Iki!!!! hahaha….

Hari demi hari dan bulan demi bulan pun terus kami lewati sambil melakukan perjalanan lainnya, aku dan Iki masih saja terus membahas seputar destinasi dan kegiatan kami saat city tour nanti dibulan Mei. Sampai suatu ketika di bulan April, Iki secara mengejutkan mengatakan…”Kan deket sama Kerinci”. Astaga, seketika saya langsung teringat puncak Indrapura pada 2009!!!. Dan saya pun mengerti maksud dari pembicaraan Iki, AYO KITA NAIK KERINCI…ATAP TERTINGGI SUMATERA…SEKEPAL TANAH SURGA DIPUNCAK SUMATERA!!! Haha seketika hilang planning city tour, bahkan sampai sekarang!!!

Saya pun teringat dengan penduduk asli Kerinci yang bernama bapak Sutriandi Katoh, dimana beliau berprofesi sebagai porter. Masih teringat oleh saya tentang perawakan kecil dan kurus,  pa Andi biasa aku memanggilnya. Langsung saja saya mengontak beliau via telpon kantor dengan harapan nomornya masih aktif, dan ternyata masih aktif. Hebatnya lagi, begitu aku mengeluarkan kata “halo”..beliau langsung menyebut nama saya yang artinya beliau masih mengingat saya, padahal sudah 5tahun lamanya kami tidak kontak 🙂

Sekitar 15menit obrolan kami di telpon seputar kabar dan banyak hal lainnya, yang intinya saya bermaksud mengabari beliau bahwasannya saya akan datang ke Kerinci dan beliau pun menyambut dengan sangat baik, padahal aku tidak menggunakan jasa beliau untuk porter namun beliau katakan “mas, kita ini sudah saudara, jangan berpikir dengan saya antar, mas harus bayar. Waktu 2009 mas kesini sendirian, apa saya minta uang ke mas?. Saya cuma senang bisa bantu sesama memijakkan kakinya ditanah tertinggi leluhur saya”. Ya..begitulah pa Andi, kalian bisa simpulkan sikap dan watak baiknya seperti apa.

Semakin menuju hari keberangkatan saya dapat kabar dari Iki bahwa salah satu sesepuh dikomunitas ini yaitu Maryono atau biasa dipanggil OBE, beserta istri dan teman-temannya yang total berjumlah 7 orang akan turut serta dalam pendakian ini, namun sayang, seiring berjalannya waktu, akhinrya mereka tidak jadi ikut pendakian karna satu dan hal lainnya, ditambah lagi 2 teman Iki pun tidak jadi ikut dalam perjalanan. Ok..tidak masalah. Artinya ada 2tiket yang menganggur, dan yang menggantikan adalah ISAL yang perawakannya mirip dengan Rano Karno saat muncul pertama kali di film Si Doel anak sekolahan hahaha…piss Sal. Sedang, 1 tiket lainnya menganggur dan akhirnya hangus.

Akhirnya hari keberangkatan pun tiba

Dikarenakan penerbangan kami adalah penerbangan pertama menuju Pekanbaru, Iki dan Isal menginap dirumah saya sejak Jumat malam, 23 Mei 2014 karena khawatir akan terlambat. Dan tepat pukul 02:30 WIB pada 24 Mei 2014, kami pamitan dengan mama saya untuk memulai perjalanan. Angkot, yang kami gunakan menuju bandara Soekarno Hatta, karena jalanan cukup lenggang, sekitar pukul 03:00 WIB kami sudah sampai dibandara dan bergegas melakukan cek-in dan memasukkan bagasi. Kami pun membeli beberapa cemilan dan air minum untuk dipesawat nanti, yaaaaaaaaaa…apa sih yang bisa diharapkan dengan penerbangan murah kalau bicara konsumsi? hehehe..yang ada makan angin dikecapin deh 😀

Terminal 3 saat itu sudah sangat ramai sekali, mau penerbangan pertama dengan penerbangan regular sudah pasti ramainya sama. Meskipun penerbangan kami pukul 05:25 WIB, kami sudah stand by dibandara. Ya..inilah yang aku suka, kami santai kami prepare!!!

Akhirnya kami pun memasuki pesawat dan kurang lebih selama 2 jam kami berada dipesawat kami habiskan untuk istirahat dan sesekali Iki dan Isal mengambil foto dari jendela pesawat. Saat itu saya masih ingat langit yang biru disertai awan-awan yang berbentuk, sangat mengesankan. Ketika pilot memberikan info bahwa sebentar lagi pesawat akan mendarat, aku semakin tidak sabar. Hahaha…Kerinci saya datang kembali !!!!

IMG_20140524_062112 IMG_20140524_064147 IMG_20140524_071110 IMG_20140524_083254

Setelah mengambil bagasi kami bergegas keluar dari area bandara Sultan Syarif Kasim II untuk mencari rumah makan dan untuk kami beristirahat sejenak, tidak jauh dari bandara terdapat rumah makan padang yang kami rasa cukup nyaman untuk kami makan dan selonjoran. Harganya pun tidak mahal, yang kami makan tidak lebih dari 12ribu untuk nasi+lauk+es teh manis, sesuai lah dengan kantong backpacker hehehe…

IMG_20140524_084002 IMG_20140524_083440 IMG_20140524_083430

Sebelum kami menuju tempat travel yang akan mengantar kami ke Kerinci, kami sempatkan sejenak untuk mengelilingi kota Pekanbaru. panas dan macet, bukan hal yang asing bagi kami yang terbiasa dengan kondisi traffic di Jakarta. Akhirnya kami sampai ditempat travel dan disambut ibu pemilik travel, langsung saja saya meminta kamar yang biasanya memang ada untuk kami istirahat dan tidur. Setelah kami membayar tiket seharga 120rb/orang, kami pun menuju kamar untuk istirahat sambil menunggu keberangkatan. Tidak banyak yang kami lakukan setibanya ditempat travel, kami hanya ingin beristirahat, selain menghemat energi, kami harus menjaga kondisi tubuh. pada sore hari 25 Mei 2014, kami pun berjalan-jalan disekitaran kampung ini sekedar untuk lihat-lihat dan belanja logistik diwarung sembako tidak jauh dari tempat travel. Suasana yang sepi dan tidak begitu banyak kendaraan sangat kami menikmati setelah sebelumnya kami makan sore, dengan harga sekali makan yang lagi-lagi tidak lebih dari 12ribu. Kembalinya kami ke kamar untuk melakukan packing ulang, dimana equipment seluruhnya berada ditas saya, logistik dibagi 2 bebannya antara Iki dan Isal.

IMG_0390 IMG_20140524_180024 IMG_20140524_182437 IMG_20140524_182544

Sambil menunggu mobil travel tiba untuk menjemput penumpang yang lain, kami pun santai sambil meminum kopi menikmati malam terakhir di Pekanbaru, tepatnya pinggiran kota Pekanbaru. Tepatnya pukul 20:00 waktu setempat mobil travel brangkat dengan mobil model Suzuki APV yang terisi full 8 orang beserta supir yang masih muda. Saya memiliki firasat yang kurang enak dengansupir muda ini, dan benar saja, sepanjang perjalanan dia sambil menyetir juga sambil bertelpon yang entah dengan siapa, Alhasil mobil melaju dengan kecepatan 40km/jam dan ini membuatku cukup kesal “kapan sampainya???!!!”. Secara perjalanan Pekanbaru – Kerinci memakan waktu 12jam perjalanan melewati jalur Sumatera yang terkenal mengerikan. Beberapa kali sebelum sampai di Kerinci, mobil pun sempat singgah untuk beristirahat. Bagi saya ini melegakan, karna selain penumpang bisa meluruskan badan, supir pun bisa sedikit menepikan rasa ngantuknya yang sepanjang perjalanan aku lihat mulai mengantuk.

IMG_20140524_232626

Sekitar pukul 11:00 waktu setempat hari Minggu, 25 Mei 2014 akhirnya kami sampai dibasecamp Jejak Kerinci dan disambut oleh pa Andi yang semalaman nampaknya gelisah karna kami belum juga tiba, hal ini terlihat beliau cukup intens menghubungi saya baik tlp/sms selama kami dalam perjalanan.

Beginilah situasi basecamp Jejak Kerinci, dimana tempat tujuan kami pun kokoh berdiri didepannya dengan hamparan kebun teh yang katanya terbesar se-Asia Tenggara.

IMG_0396 IMG_0476

Sekitar 1jam lamanya kami berisitrahat dan sambil menyapa dengan para pendaki dari berbagai kota lainnya, cukup lumayan banyak jumlah pendaki yang berada di basecamp saat itu. Itupun hanya dari yang dibasecamp tempat kami saja, belum ditempat lainnya. Selain itu kata pa Andi, jumlah ini pun sudah banyak berkurang disbanding hari kemarin. Wow..aku semakin semangat untuk melakukan pendakian, tidak sabar rasanya hahaha…

Setelah selesai makan, shalat zuhur dan persiapan lainnya, sekitar pukul 1 siang waktu setempat kami pun berangkat dari basecamp menuju pintu rimba dengan menggunakan angkot semacam elf yang memang biasa digunakan untuk mengantar para pendaki dari basecamp menuju pintu riba, cukup hanya biaya 10rb/orang saja untuk 1kali antar. Sepanjang perjalanan kami disuguhi oleh hijaunya perkebunan teh dan sejuknya udara saat itu yang membuat saya pribadi seperti terhipnotis, sehingga tidak sempat mengambil foto. Sungguh saya sangat takjub dengan salah satu alam Indonesia ini..Subhanallah..sungguh sangat indah. Kalian harus datang kesana untuk membuktikannya.

Sekitar 15menit kami sampai di awal pendakian, setelah selesai berdoa kami pun memulai perjalanan dengan dan pastinya dimulai dengan berjalan kaki dengan formasi pa Andi didepan, Saya, Isal dan sweeper andalan Iki. Seperti biasa, 15menit pertama adalah penyiksaan untuk kami yang notabene adalah perokok, dan pastinya ngos-ngosan!!!!

Langkah demi langkah kamipun terus berjalan secara pasti, urutan dari pintu rimba sampai ke puncak adalah Pintu Rimba, Pos 1, Pos 2, Pos 3, Shelter 1, Shelter 2, Shelter 3, Tugu Yudha dan Puncak Kerinci atau Puncak Indrapura. Layaknya pulau Sumatera yang dipenuhi pepohonan, kami pun benar-benar masuk ke hutan. Saya pikir untuk mendaki Kerinci ini tidak cocok untuk jalan malam yang pastinya akan berebut oksigen dengan tumbuhan. Cuaca saat itu pun cukup bersahabat, tidak terlalu panas dan tidak terlalu mendung. Beruntung juga bagi kami dimana sepanjang perjalanan tanah yang kami pijak adalah tanah, dan pada saat itu tanah yang kami pijak tanah kering, bayangkan sulitnya trekking apabila turun hujan dan sesudah hujan wow!!!

Sekitar 35menit kami sampai di pos 1 dan bersitirahat sejenak dibawah gubuk yang memang disediakan. Obrolan enteng sambil istirahat, menenggak air secukupnya sampai 1batang rokok sebagai ukuran kembalinya dimulai perjalanan pun habis dan kami kembali melakukan perjalanan menuju pos 2 yang kami tempuh dalam jangka waktu 40menit. Trek dari pos 1 menuju pos 2 sebenarnya tidak terlalu panjang, namun karena medan yang semakin naik, membuat kami mengurangi kecepatan untuk menghemat energy, mengingat perjalanan menuju shelter 3 tempat rencana untuk camp masih sangat jauh. Setelah cukup beristirahat di pos 2, kami pun kembali mengangkat keril yang kami senderkan di gubuk pos 2 untuk menuju pos 3, dan medan semakin menanjak. Seingatku kami berisitrahat sambil berdiri sebanyak 3 kali dalam perjalanan menuju pos 3 ini, sekedar untuk minum dan mengambil nafas yang semakin memburu. Tidak ada raut wajah kecewa diantara kami ataupun lelah yang berarti, apalagi kalau melihat pa Andi yang sama sekali tidak terlihat lelah di wajahnya.

Sesampainya di pos 3 setelah menempuh perjalanan 1 jam, saya pun berbincang dengan pa Andi untuk mengubah rencana dimana sebelumnya kami akan langsung ke shelter 3, saya memutuskan untuk kami bermalam di shelter 1, pa Andi pun mengiyakan. Pikirku saat itu, kami sudah datang jauh-jauh dan cuti yang sudah kami ambil pun banyak, jadinya kami santai saja lah.

Oke..kita kembai melawan otot betis yang semakin membulat menuju shelter 1. Medan semakin menanjak dengan sesekali trek yang berbentuk seperti tangga. Trek yang seperti ini saya kurang suka…pegel men!!!!! Namun kami berhasil mencapai shelter 1 dalam jangka waktu 45 menit, dan sudah Nampak saat itu ada sekitar 5 tenda yang berdiri. Kami pun lega sudah mencapai shelter 1, kalau tidak salah ingat waktu itu menunjukkan pukul 5 sore. Kami pun menyapa para pendaki lainnya untuk saling berkenalan, dan waktu itu kami mengambil lapak dimana ternyata ada beberapa orang yang berasal dari Jakarta. Bergegas kami membagi tugas, dimana saya dan pa Andi membuka tenda dan membentangkan flysheet sedangkan Iki dan Isal memasak dan membuat kopi atau susu, mengingat udara yang sudah mulai dingin. Shelter 1 ini tidak begitu luas, mungkin hanya bisa menampung maximal 10 tenda saja. Dari Shelter 1 ini kita sudah dapat melihat puncak Indrapura, kelihatannya ya tentunya masih jauh namun sangat menantang!!

Setelah selesai dengan segala sesuatunya, kami pun semakijn mengakrabkan diri dengan para tetangga dengan obrolan-obrolan hangat sambil menikmati udara yang sejuk, makan, kopi, susu, camilan dan berbatang-batang rokok. Ternyata Isal pun bertemu dengan wanita yang berprofesi IT sama seperti pekerjaan Isal, namun sayangnya wanita tersebut sudah berkeluarga…sabar ya Sal hehehehe…

Meskipun udara semakin dingin pada malam itu, namun kami yang berkumpul tidak terlalu merasakannya, inilah yang dinamakan kehangatan lainnya: meski baru saling mengenal, kami bisa saling berbagi logistic, cepat akrab dan tertawa bersama seperti sudah saling mengenal bertahun-tahun. Seingatku ada 4 orang dengan 2 tenda yang berasal dari Jakarta dengan nama masing-masing Om Nusron yang umurnya mungkin sudah 50tahun-an, Mba Yuli yang berprofesi sebagai IT, mas Dadang dan mas Ajun. Om Nusron dan mba Yuli menggunakan jasa porter, seorang anak muda yang umurnya mungkin sekitar 21 tahun yang bernama Sugi. Mas Dadang dan mas Ajun juga menggunakan jasa porter, namun saya lupa namanya, okelah kita sebut saja Jiung supaya lebih mempermudah. Dengan Sugi dan Jiung kami pun akrab sama seperti yang lainnya, tidak ada perbedaan diantara kami.

Jam pun menujukkan pukul 22:00 dan saya memutuskan untuk masuk tenda untuk beristirahat meninggalkan yang lainnya yang masih akrab mengobrol.  Mengingat perjalanan masih cukup jauh, dan pada malam itu saya melihat dilangit awan berkumpul cukup banyak, yang artinya kemungkinan esok hari akan turun hujan. Makanya saya memutuskan tidur lebih awal untuk menjaga kondisi badan, karna jika hujan turun, medan akan semakin berat untuk dijejaki.

Alarm saya pun menyala tepat pukul 5 pagi, setelah selesai melaksanakan shalat subuh. Saya pun membangunkan Isal dan Iki untuk melakukan persiapan, sedangkan pa Andi sudah bangu lebih dulu dari saya dan sudah mulai memasak untuk kami berempat. Dasar emang hawanya enak buat tidur, sulit sekali membangunkan Iki dan Isal, hahaha,,,aku pun terpikir untuk kembali tidur sejenak, namun aku melihat matahari sudah semakin tampak, akhirnya mau tak mau, saya menggerakan badan untuk stretching menghilangkan kekakuan badan. Makan pagi pun siap, sementara Iki dan Isal masih tidur, aku dan pa Andi makan terlebih dahulu setelah sebelumnya berkali-kali mencoba untuk membangunkan Iki dan Isal. Setelah Iki dan Isal bangun dan saya serta pa Andi selesai sarapan, gentian saya dan pa Andi memulai packing dengan awalan mengeluarkan seluruh barang dari dalam tenda untuk kemudian melakukan packing, sementara Iki dan Isal sarapan dan ngopi-ngopi santai.

Ketika kami melakukan packing, terlihat beberapa kelompok sudah mulai meninggalkan shelter 1 sampai akhirnya kami berempat siap kembali melakukan perjalanan, tentunya sebelum berangkat kami melakukan doa dan pamitan kepada 4 orang lainnya yang berasal dari Jakarta, dengan janji untuk camp di shelter 3 kembali tenda kami disatukan.

Formasi perjalanan masih sama seperti sebelumnya, namun mungkin karna medan yang semakin curam membuat kami terpecah menjadi 2 bagian, dimana aku dan pa Andi didepan dan Iki serta Isal jauh tertinggal dibelakang. Benar saja feeling ku tadi malam, setelah kami berjalan sekitar 30 menit, hujan deras seketika turun, langsung saja saya dan pa Andi membentangkan flysheet ke pohon-pohon dipinggir jalur pendakian, dikanan kiri kami teradapat 2 tenda dan kami pun menumpang untuk membentangkan flysheet. Saya dan pa Andi pun berteduh, sesekali aku berteriak memanggil Iki dan Isal dan disauti oleh mereke yang akhirnya mereka pun sampai dengan berbalut jas hujan. Cukup lama hujan kala itu yang turun, yang membuat kami sempat terkantuk kantuk sebelum hujan berhenti. Enak sekali rasanya tidur dikala hujan, ah tapi perjalanan kami masih sangat jauh dan berat. Pastinya tanah akan becek.

Kami pun memutuskan langsung meneruskan perjalanan begitu hujan berhenti, semangat kawan!!!!

Trek menuju shelter 2 ini adalah yang terpanjang intervalnya dimana kami harus memutari 4 bukit, melakukan semi climbing yang mempertemukan dengkul dengan dada dan banyak trek menarik lainnya sebelum kami sampai shelter 2. Saya dan pa Andi pun akhirnya terlebih dahulu mencapai shelter 2 dengan waktu tempuh 2jam, sementara Iki dan Isal tertijnggal jauh dibelakang, jauh sekali. Hal ini terbukti dimana pa Andi memutuskan untuk berangkat terlebih dahulu menuju shelter 3, saya memutuskan untuk menunggu Isal dan Iki selama 1,5jam lamanya. Bukan maksud saya untuk meninggalkan 2 kawan saya itu namun, saya percaya mereka berdua pasti sampai. Di shelter 2 ini pun terdapat tempat untuk camp namun sekali lagi sama seperti shelter 1, tempatnya sangat terbatas dan kali ini lebih kecil daripada shelter 1.

Inilah yang saya tunggu-tunggu, JALUR LOBANG TIKUS!!!. Kenapa dinamakan demikian, karena jalur ini berbentuk seperti trowongan tikus, bedanya atasnya tertutup oleh akar dan pohon-pohon yang miring yang berbentuk atap sehingga jika dilihat jalur ini berbentuk bulat. Saya sangat bersemangat sekali, karna full dijalur ini kami haru melakukan free climbing…menantang bingitss!!!! Tidak terasa lelah sedikit pun bahkan saya sendirian bisa menempuh jalur ini dalam kurun waktu 20menit..hahaha lebih baik dari catatan sebelumnya yang 30menit. Trek ini sering diabadikan oleh para pendaki untuk berfoto, namun tidak bagi saya yang hanya mengambil gambar secukupnya saja dengan sesekali meminta bantuan orang lain untuk minta difotokan, karna bagi saya rekaman terindah hanyalah yang terdapat di otak saya. Padahal macho juga sih kalau kita berfoto disini hehehe…

IMG_0472 IMG_0475 IMG_0492 IMG_20140526_113342 IMG_20140526_121612 IMG_20140526_122402

Saya pun langsung mencari pa Andi untuk meletakkan keril dan bermaksud menjemput Iki dan Isal, ternyata baru beberapa langkah mereka berdua sudah terlihat dan selamat!!! Kami sudah sampai di pos terakhir sebelum melakukan pendakian menuju puncak Indrapura.

IMG_20140527_104651 IMG_0429 IMG_0433

Seakan segera ingin bersantai, kami pun segera membangun tenda dan mempersiapkan yang lainnya dengan berbagi tugas sama seperti sebelumnya. Tenda kami pun masih berkumpul dengan 4 orang yang berasal dari Jakarta ditambah beberapa pendaki lainnya dari berbagai kota. Selesai mempersiapkan segalanya, kopi adalah tujuan utama aku dan tentunya kami semua. Selesai membuat kopi segera saya mendatangi spot favorit untuk menikmati secangkir kopi seharga 2 ribu dengan pemandangan yang tidak ternilai harganya, samba bernarsis-narsis ria hehehe…

IMG_0443 IMG_0447 IMG_20140527_103642 IMG_20140527_103633 IMG_20140527_103703 IMG_20140527_103718 IMG_20140527_103802 IMG_20140527_103903 IMG_20140527_104003

Sore itu..tidak banyak aktifitas yang kami lakukan mengingat besok sekitar pukul 3 pagi kami akan melakukan summit attack. Hanya berkumpul untuk mengobrol, menikamti kopi disertai roko yang merupakan pasangannya. Shelter 3 memang tidak dingin, bahkan kami merasakan kehangatan, ya kehangatan yang saya maksud disini adalah keakraban kami secara keseluruhan pendaki dari berbagai daerah. Ada hal lucu ketika mala tiba, waktu itu ada seorang pendaki asal Surabaya yang melakukan perjalanan ini hanya berdua yang bernama mas Agus, ditengah keheningan tiba-tiba dia berteriak sambil berdiri “Amanda, aku memang tidak kaya..tapi aku yakin kita pasti bahagia!!!”. Sontak setelah teriakkan itu, kami semua yang berada di shelter 3 yang tadinya hening, menjadi tertawa terbahak-bahak dan mas Agus terus menerus berterika yang sama dan selalu diikuti oleh tertawa oleh kami yang mendengarnya. Penasara dengan sumber suara itu, aku pun mendatangi mas Agus dan kawannya sekedar untuk mengobrol dan sekalian saya minta kopi dan roko yang mulai menipis persediaannya hehehe..

Sampai akhirnya dengan nada yang santai, aku pun bertanya siapa Amanda?..ternyata Amanda adalah gebetan mas Agus, dimana sebenarnya mereka saling mencintai namun karna Amanda datang dari keluarga yang kaya namun mas Agus adalah sebaliknya, orang tua Amanda melarang keras untuk berhubungan dengan mas Agus, Wow..perawakan mas Agus tinggi besar, saya ingat waktu itu mas Agus cukup serius dan dalam menceritakan banyak hal tentang Amanda..asiknya obrolan kami saat itu diselimuti kabut dan ribuan bintang yang menerangi…sayangnya suasan romantic gini saya malah lagi sama cowo..but I’m not gay ya!! Hahahaha…

Obrolan pun selesai dan saya memutuskan untuk kembali ke tenda untuk berisitrahat, anehnya malam itu saya tidak bisa tidur sama sekali padahal badan rasanya sudah lelah dan letih. Hanya krsak krusuk didalam tenda, ternyata bukan saya saja, Iki dan Isal pun sama. Akhirnya saya memutuskan keluar tenda untuk makan, barangkali perut saya lapar. Ketika sedang memasak, ternyata om Nusron  dan mba Yuli yang tidur dalam 1tenda pun tidak bisa tidur. Sebentar kami mengobrol, aku pun kembali ke tenda untuk coba lagi memejamkan mata, namun tetap tidak bisa.

Aaaaaaaakkk hujan turun sekitar pukul 12 malam sampai sekitar pukul 3 subuh, wah bisa ga dapat sunrise nih besok. Ok lah tak mengapa…

Begitu  hujan berhenti, bergegas baik yang ditenda saya taupun tenda lainnya melakukan persiapan untuk summit. Saya pun berbekal minum dan roti yang dimasukan dalam drypack yang dislempangkan. Saya sudah siap lebih dahulu ketimbang pa Andi, Iki dan Isal. Khawatir suhu tubuh ikut dingin, saya memutuskan untuk berangkat duluan dimana Iki dan Isal akan dikawal oleh pa Andi.

Saya pun bertemu dengan mas Agus dan temannya, ini yang saya syukuri, dimana baru saja kami berjalan 10menit, baterai di headlamp habis, untungya temannya mas Agus punya cadangan dan diberikan kepada saya gratis!!!. Sepanjang perjalanan, kami bertiga cukup cepat melangkah dan sesekali merangkak pada jalur dengan medan 70-80 derajat, sampai akhirnya temannya mas Agus meminta untuk berhenti karena kelelahan, namun mungkin mas Agus yang melihat, mempersilahkan saya untuk melanjutkan perjalanan dan tentunya saya pun terus melangkah karna sudah kepalang tanggung badan sudah enteng dibawa. Sepanjang perjalanan menuju Tugu Yudha yang treknya adalah pasir dan kerikil, saya melewati rombongan demi rombongan yang berada didepan saya sampai akhirnya tidak terasa melewati Tugu Yudha dan hanya sendirian, karena puncak sudah semakin terlihat, saya terus menerus melangkah tanpa henti. Inilah sedikit kendala ketika akan mencapai puncak, saya dihadapi oleh gulungan asap belerang yang sangat banyak dan menyengat membuat hampir muntah. Perkiraan saya, ini bukan fase dimana belerang yang mematikan, hanya belerang dalam fase yang masih normal. Sesekali ketika asap belerang mendatangi, saya berlindung diantara batu tebing yang merupakan dominasi trek dari Tugu Yudha menuju puncak Indrapura. Tebing licin bekas hujan semalam pun tidak sedikit yang membuat saya terpeleset, yang akhirnya karena alasan safety first, saya memutuskan untuk merangkak saja mengingat medan yang juga semkain curam. Sudah tinggal sedikit lagi saya kembali mencapai puncak Indrapura, ternyata terlihat didepan saya 2 sosok manusia, yang 1 bule yang 1 lagi nampaknya warga Kerinci asli. Akhirnya aku pun menyusul mereka dan tidak lama kemudian…..

 

PUNCAK INDRAPURA!!!

IMG_20140527_071531 IMG_20140527_070827_1 IMG_20140527_070559 IMG_20140527_070713 IMG_20140527_070514 IMG_0487

IMG_20140527_070023

IMG_0468

IMG_20140527_065650IMG_20140527_070514IMG_20140527_070014IMG_0469

 

YESSSSSS….akhirnya saya punya foto banyak untuk DP BBM/WA atau yang lainnya hahaha

Selesai kami menikmati puncak Indrapura, kami pun segera untuk kembali ke shelter 3. Dan inilah trek dan panorama sepanjang menuju puncak yang tidak sempat saya abadikan kedalam gambar.

IMG_20140527_085116 IMG_20140527_085017 IMG_20140527_083700 IMG_20140527_083619 IMG_20140527_083546 IMG_20140527_083346 IMG_20140527_083243 IMG_20140527_083223 IMG_20140527_083202 IMG_20140527_083139 IMG_20140527_083120 IMG_20140527_082735 IMG_20140527_082551 IMG_20140527_073653 IMG_20140527_073724_1 IMG_20140527_073742 IMG_20140527_073825 IMG_20140527_073850

IMG_20140527_073945 IMG_20140527_073940

IMG_20140527_073837

 

Packing dan persiapan untuk turun pun akhirnya kami selesaikan dan kami siap menuju pintu rimba. Alhamdulillah..sejauh kami turun dari puncak Indrapura tidak kekurangan 1hal apapun. Cukup cepat kali ini kami untuk turun, tercatat hanya 5jam yang kami butuhkan untuk sampai dipintu rimba atau pos terakhir menuju basecamp. Kami merasa beruntung pendakian kali ini diberikan cuaca yang baik, bayangkan saja, sepanjang perjalanan kami pulang, masih banyak pendaki yang susah payah baru memulai pendakian dengan jalur yang sudah rusak karena diguyur hujan semalam. Tidak sedikit juga kami terpeleset jatuh karna medan tanah yang membuat kami ngesooooooooooottttttt, ah biasa lah itu mah.

Rasanya puas sekali hati dan batin kami bisa beruntung menginjakkan kaki di atap tertinggi Sumatera. Tidak ada kesombongan yang tersemat dihati kami semua, kami hanya ingin menikmati alam dengan apa yang kami punya. Rasa sykur tidak hendti-hentinya terucap dari bibirku masih diberikan kesempatan menikmati salah satu ciptaanNYA dan salah satu alam indah di Indonesia. Senyum merekah pun tersemat dibibir kami, merasakan kepuasan bisa mengalahakn ketakutan dan kebimbangan dalam diri kami masing-masing.

Sore hari menjelang malam kami sampai dibasecamp, ternyata masih banyak pendaki berdatangan dan jumlahnya lebih banyak ketika kami tinggal pendakian. Seperti biasa, kami pun saling berbaur seperti sudah saling mengenal satu sama lain. Malam hari pun kami merencanakan untuk esok harinya menuju danau gunung tujuh, namun setelah melihat foto-foto yang terpampang didinding basecamp, mata kami tertuju pada danau Kaco yang akhirnya mengganti tujuan. Sengaja saya tidak tuliskan perjalanan danau Kaco, agar tidak terlalu banyak lagi kata yang tertuliskan.

IMG_0479 IMG_20140528_155707 IMG_20140528_155526 IMG_0482

IMG_20140530_141528 IMG_20140530_134104 IMG_20140530_134059 IMG_20140530_134000 IMG_20140530_133916

 

 

 

Pagi tak pernah berteriak,  ia hanya menegur dalam sebuah embun yang menjelma menjadi cahaya

Di jalan ini, pada langkah yang entah kupasrahkan pagi dalam doa yang tak pernah tertuliskan dalam kata

Seperti yang pernah kau katakan, pagi ialah ungkapan cinta. Aku melihatnya, saat Tuhan membangunkanku dalam ingatan.

Pada periode itu,

Kami berjalan, melangkah dan tidak segan merangkak hanya untuk satu kehangatan

Kebersamaan dan Keyakinan

Bukan tentang ambisi

Atau keinginan

Tapi tentang mewujudkan satu per-satu mimpi

Mimpi menjadi anak penjaga negri ini”

 

-@apriyadisukarya-

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s