Posted in Cerita Jalan

Catatan Merbabu 28 – 31 Maret 2014

cerita jalan oleh Apriyadi @apriyadisukarya

Mari melanjutkan ekspedisi !! Setelah pendakian Gunung Andong rampung (1 Maret 2014 – 3 Maret 2014) . Saya dan beberapa anggota backpacker Tangerang menjatuhkan pilihan selanjutnya  pada Gunung Merbabu . Gunung yang terletak di Jawa Tengah ini konon menyimpan keindahan alam yang tidak biasa . Bagaimana ceritanya ?? baca terus sampeee abis .

Kami berencana mengawali pendakian melalui Boyolali dengan pos pendakian Selo. Mengatasnamakan Traveller sejati , kami tidak terlalu memusingkan perihal transportasi. Namun hingga satu minggu menjelang keberangkatan kami baru ribut mencari transportasi dan tambahan orang. Alhasil pilihan kereta ternyata semua tiket sold out, pilihan ke-2 adalah menggunakan bis. setelahnya pupus juga karena semua armada yang kami cek untuk tujuan Boyolali keberangkatannya paling sore yaitu pukul 17:00 WIB. Ah kacau !!

Tapi untungnya, terbantu dengan salah satu teman pendaki, Riski. Riski ini bekerja diperusahaan yang bergerak dibidang rental mobil untuk corporate. Tanpa berfikir panjang kami memutuskan untuk menyewa mobil disini. Dan usut punya usut ternyata kantor saya merupakan salah satu pengguna jasa diperusahaan Riski. Jadi selama ini saya dan Riski tidak hanya menjadi partner jalan tapi juga partner bisnis. sempit banget ya dunia , haha

Semula kami hanya berniat pergi berdua, karena takut dipandang mehong gunung kami mencari tambahan anggota. Dan 4 orang  kece ini akhirnya menemani ekspedisi kami ke Gn. Merbabu

dan mereka adalah …

Anas (traveller yang baru kali ini melakukan pendakian), Randy (udah sering lah yah naik turun gunung), Eko (dari ceritanya, termasuk kepada pendaki menengah yang tidak bisa dianggap enteng), Dita (satu-satunya wanita di rombongan ini yang sudah sangat expert naik turun gunung).

Setelah masalah transport  terselesaikan di kamis malam, segera saya menyusun logistik dengan membagi rata kebutuhan kelompok kepada masing-masing orang termasuk saya sendiri/Meeting point pun kami pilih di hotel Kartika Chandra dengan kesepakatan pukul 20:00 wib sudah hadir semua

Jadwal meeting point lagi lagi molor, kemacetan  Jakarta ditambah  hujan deras merupakan paket lengkap malam itu . huff

Gak masalah lah yah. Sambil menunggu para traveller lainnya, saya mencoba mengingat tempat ini. Disini selalu menjadi awal  pertemuan saya dan beberapa traveller di beberapa perjalanan sebelum. Bersejarah sekali . . hahaaa!

Setelah satu persatu datang dan  berkumpul semua, kami memutuskan untuk makan malam terlebih dahulu di Sevel. kami baru berangkat dari Kartika Chandra pukul 21:30 wib dengan memilih jalur utara atau pantura . Dengan formasi Riski sebagai driver, Eko CO-driver, ditengah Anas,Dita dan Saya sendiri, sedangkan Randy dikursi paling belakang bersama carier-carier.

Sial !!, setelah sepanjang jalan arus lalu lintas lancar, kami terperangkap di  sepanjang jalur pantura – Indramayu . jalan yang Rusak  parah  menimbulkan kemacetan yang luar biasa, alhasil kami  baru mencapai pintu tol kanci (penghubung Jawa barat dan Jawa Tengah) pada waktu subuh tanggal 29 Maret 2014. Kami pun keluar dengan melalui kota Brebes dan lanjut mengarah kota Semarang, lagi-lagi sial, sepanjang jalan Ungaran – Bawen macetnya tidak kalah dari macetnya sepanjang Indramayu – Pantura, ketika di Ungaran kebetulan giliran saya yang menjadi driver,  kami terjebak kemacetan disini hampir 5 jam!!.hoaaaaaah.

Sebenarnya tidak masalah dengan kemacetan, toh kami tetap bisa menikmati perjalanan . Canda tawa yang pecah didalam mobil membuat semua perjalanan terasa nikmat. untungnya saya tidak nyetir sendirian. berbagi pegelnya mengendarai mobil dengan Eko dan Riski . terima kasih broo sudah mengemudi dengan baik. haha!

Kami sampai di kota Boyolali pada pukul 16:30 WIB, kami menyempatkan diri untuk makan setelah sebelumnya melewatkan makan siang karena  terjebaknya macet di Ungaran. ANGKRINGAN selalu menjadi pilihan untuk kami, bertemu beberapa warga setempat dan perbincangan pun mengalir selayaknya sudah saling mengenal lama. Bapak pemilik angkringan menerangkan bahwa Gunung Merbabu ditutup, saya pun segera  kontak ke basecamp Selo menanyakan kebenarannya dan jawabannya sangat melegakan kami, pendakian tetap dibuka.

Setelah selesai makan, kami  bergegas menuju Selo. Sebelum memasuki basecamp Selo, kami berbelanja logistik yang kurang dan beberapa perlengkapan seperti baterai dan jas hujan sekali pakai. Setelah selesai dari pasar kami langsung bergegas kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan. Sepanjang perjalanan pasar Selo – Selo, terlihat banyak pengendara motor yang memakai carier, saya pikir tujuan mereka pun sama dengan kami. Sesaat memasuki basecamp, jalanan sudah mulai menanjak, kanan kiri kami disuguhi pepohonan dan warna langit biru yang mulai meredup, ditambah lagi hawa pegunungan makin terasa yang membuat kami semakin tidak sabar untuk cepat sampai. Namun saya memutuskan untuk singgah sejenak di salah satu mushola untuk melaksanakan shalat magrib dan setelah itu re-packing carier kami masing-masing. Tepat pukul 19:30 wib kami sampai di basecamp dan melakukan laporan pendakian

Kami mendapat info bahwa pada hari tersebut terdaftar 450 orang yang melakukan pendakian, belum lagi dari 2 basecamp lainnya seperti Wekas dan Chuntel, dahsyat men!!!. Dan akhirnya setelah melakukan persiapan dan berdoa, mulai dari basecamp Selo semua ditempuh dengan berjalan kaki tepat  pukul 20:00 WIB.

Gapura selamat datang pun menyambut kami dengan beberapa kelompok pendaki lainnya yang cukup ramai dengan formasi kelompok kami dari depan sampai belakang: Eko, Aku, Dita,Anas, Randy dan terahir Riski. Track menanjak mulai kami jejaki sejak awal, cukup santai dari awal kami berjalan, namun saya melihat langit mulai berkumpul langit hitam,  saya menjadi sedikit khawatir. Saat hujan  track Selo ini akan cukup sulit dilalui dan menguras tenaga

Belum lama kami berjalan, Eko meminta untuk berhenti sebanyak 2 kali, saya agak heran  dengan Eko,Akhirnya Riski memutuskan untuk membongkar carier Eko dan ternyata adanya kesalahan packing yang membuat beban bawaan terlalu berat dan melambatkan pergerakan EKo. Akhirnya Riski re-packing carier Eko dan membagi sebagian air minum untuk dibawa kepada yang lain. Oh iya, untuk jalur Selo ini hampir pasti tidak ada mata air, sehingga kami memutuskan untuk masing-masing  membawa 2 botol besar air minum. Setelah selesai kamipun lanjut melakukan perjalanan, mengasyikan perjalanan malam ini, selain diselingi canda tawa , kami dihibur oleh nyanyian hewan-hewan kecil seperti jangkrik. Cukup jauh memang dari basecamp untuk menuju pos 1, sepanjang perjalanan kami menuju pos 1 kami bertemu dan melewati beberapa pendaki yang berasal dari bermacam kota dan seperti biasa  tegur sapa selalu menjadi ciri khas seorang pendaki.

Badan kami mulai memanas, langkah kami pun jadi semakin cepat dan alhasil pada pukul 22:00 wib kami sampai di pos 1 dan istirahat . Namun saya tetap khawatir dengan cuaca dan banyaknya pendaki yang naik,   Riski akhirnya meminta saya berjalan lebih dulu untuk  mencari tempat dan mendirikan tenda. Namun kesepakatannya adalah jika pukul 24:00 wib saya sampai di pos Sabana 1 saya harus berhenti dan membuka tenda disana, jika masih belum mencapai waktu yang ditentukan saya harus lanjut ke pos Sabana 2. Setelah memakai jam tangan Randy untuk mencocokkan waktu, Tidak menjadi masalah besar untuk menjalankan misi ini karena Sebelumnya saya memang terbiasa  mendaki sendirian.

menikmati perjalanan duluan ini  dengan  menyalakan musik-musik di hp , musik yang di  loudspeaker membuat adrenalin semakin terpacu,  membuat berjalan menjadi seperti setengah berlari. Langkah demi langkah, tanjakan demi tanjakan yang derajat dan tingkat kesulitannya makin menjadi pun saya lalui. Akhirnya dalam kurun waktu 30 Menit, sampai juga di pos 2 bayangan. Istirahat sejenak dengan membakar sebatang roko, di pos ini terdapat 1 tenda yang menurut saya ditempatkan dijalur pendakian (jangan ditiru). Di pos ini saya bertemu beberapa kelompok lain dan berbincang ringan. saya  bertemu dengan Kunto yang berasal dari Klaten. Kunto ini terlambat melakukan pendakian sementara temannya yang lain sudah mendaki terlebih dahulu 3 jam sebelumnya. WOW!

Setelah minum cukup, berbincang dan menghabiskan 1 batang roko sampai badan kami dingin kembali akhirnya saya dan Kunto mulai meneruskan pendakian. Kami bersiap menghadapi track pendakian yang akan semakin curam, dari pos 2 ini saja tingkat kecuraman bisa diperkirakan 75 derajat. Karena tekad dan kemauan kami semakin bulat, kami pun pantang menyerah padahal otot paha dan betis semakin menegang, “ah wajar”  Seiring dengan baterai hp yang sudah habis, musik pun berganti ke speaker Kunto dengan alunan musik Iwan Fals dan lagu-lagu rock seperti Final Countdown, The Spirit Carries On, Bon Jovi dll. SADAP!!

Sepanjang perjalanan kami pun tetap berbincang, dan ternyata walalupun masih duduk di bangku SMA kelas 1, pengalaman Kunto tidak bisa dianggap remeh. Gunung Merbabu ini sudah ke-5 kalinya dia daki. kontur jalur yang dilalui sekarang sangat berbeda dengan pendakian saya tahun 2010 lalu . keadaan menjadi rusak parah ,  menurut Kunto hal ini dikarenakan  longsor dan jalur air .

Hanya 25 menit waktu yang kami butuhkan untuk mencapai pos 2 yang sebenarnya, disini kami hanya beristirahat sekitar 5 menit karna khawatir udara semakin dingin dan yang ditakutkan adalah hujan karna langit sudah mulai menampakan beberapa kali kilat. Okeh..perjalanan kami lanjutkan dan bisa ditebak, kecuraman semakin meningkat.  kami  mulai masuk tanjakan Harimau, Kenapa bisa disebut tanjakan Harimau? karena memang dulu di tempat ini masih ada harimau liar yang berkeliaran. Track yang kami hadapi semakin sulit, dimana banyak tanah basah dan tingakat curam bervariasi dari 80 derajat sampai 90 derajat yang membuat kami seperti setengah merangkak, ada beberapa juga yang membuat kami haru melakukan climbing, seru!!!!.

perjalanan dari pos 2  ke pos 3/pos batu tulis  kami tempuh dengan waktu 30 menit  ,  pos ini terdapat lapangan cukup lebar dan biasa dijadikan tempat untuk  membuka tenda . Sebenarnya tidak terlalu jauh, track yang sulit lah yang membuat kami dan beberapa pendaki lain membutuhkan waktu lebih di track pos 2 menuju pos 3. saya melihat jam dan waktu menujukkan pukul 23:00 wib.  Berfikir, kelompok saya sudah sampai mana yah?. Selain mengingat waktu, cuaca dan track yang lumayan berat, aku pun memutuskan untuk berhenti saja di Sabana 1 nantinya meskipun aku bisa mencapai Sabana 1 dalam jangka waktu 30 menit dan benar saja, hanya 30 menit waktu yang saya perlukan dari pos 3 menuju Sabana 1. Namun, track makin menggila yang membuat saya dan Kunto harus mempertemukan dengkul dengan jidat sepanjang perjalanan. Ada hal yang menarik yang saya  rasakan, ketika jalur menuju Sabana 1 mengantri, kami memutuskan untuk bergeser ke kiri dimana tidak ada pendaki lainnya dan jalurnya juga tidak terbilang mudah, disuatu sedkit tanah lapang, saya dan Kunto berhenti sejenak, ditempat ini saya merasakan keanehan, dimana dataran semakin tinggi namun udara sangat hangat. Dengan menoleh kebelakang sambil duduk, saya melihat view lampu-lampu kota dan Gunung Merapi yang gagah, sungguh suatu keadaan yang sangat romantis ketika saya sedang melepas lelah ditempat tersebut, sialnya saya bersama seorang pria dan bukan wanita hehehehe….namun yang paling saya sayangkan ketika melihat pemandangan yang begitu menawan tersebut, saya tidak bisa mengambil foto dari hp karena terlalu gelap dan ya sudahlah simpan di memori otak saja,  merinding melihat keindahan Sang Maha Pencipta , mengucap syukur sebesar besarnya masih diberi kesempatan menikmati hamparan alam semesta

Sesampainya saya dan Kunto di Sabana 1, kami pun bergegas membangun tenda karena hujan cukup deras pun turun. Sial bagi saya dan kunto, logistik kami ada di teman kami masing-masing dan tidak biasanya ketika saya jalan terlebih dahulu aku tidak meminta logistik. Yang kami berdua bawa hanya kompor dan tabung gas, itu pun milik Kunto. Namun kami tidak khawatir, kami pun menyambangi kelompok yang berada didepan tenda kami untuk meminjam nesting (alat masak sejenis panci namun berbentuk kotak) kemudian kami meminta indomie dan kopi untuk kami seduh. Sudah sewajarnya sesama pendaki meskipun tidak saling mengenal, pasti akan saling membantu ataupun memberi. Nilai ini lah yang sudah sangat berkurang dikehidupan perkotaan. saya dan Kunto pun sangat senang dan , kami pun memasak didalam tenda dengan sangat hati-hati sambil ditemani hujan waktu itu.

Setelah menyantap indomie dan meneguk kopi, saya mulai mengeluarkan sleeping bag dan matras untuk rebahan.sambil menunggu kelompok tiba, saya percaya pada meraka semua,  mereka  pasti kuat dan sampai. Kunto tetap berjaga dipintu tenda melihat kelompok yang datang dan selalu dia teriaki nama-nama orang kelompok saya yang sudah saya beritahu, sesekali dia juga berteriak “Tangerang”, namun tidak ada satu pun yang me-respon karna memang bukan kelompok saya. Namun seiring dengan waktu yang menunjukkan pukul 02:00 wib, kelompok saya belum juga tiba, saya ingin turun namun masih hujan, saya berfikir bisa jadi kelompok saya sudah tiba di pos 3 atau pos batu tulis dan mendirikkan tenda disana karena hujan. saya  pun memutuskan untuk tidur dan esok bangun lebih awal.

Sekitar pukul 05:00 wib saya pun terbangun untuk melaksanakan shalat subuh namun didalam tenda, hal ini karena diluar terjadi badai yang cukup besar. Menurut Kunto yang tertidur pukul 03:00 wib, badai mulai terjadi pukul 04:30 wib, dan sampai pukul 08:00 wib badai belum juga reda. Barulah pada pukul 08:39 wib, badai akhirnya berhenti. saya pun keluar tenda, sekali lagi untuk meminta logistik kelompok lain untuk saya dan Kunto sarapan. Selesai Sarapan pun saya berniat untuk melakukan packing dan mencari kelompok, baru saja saya  mengeluarkan sebagian barang, terdengar ada suara wanita yang memanggil, sebelum menoleh saya sudah tau itu suara Dita dan ketika saya  memutar badan, benar itu Dita, tidak lama kemudian disusul Riski, Randy kemudian Anas, sedangkan Eko tinggal di tenda di pos 3 batu tulis. Benar dugaan saya, mereka terkena hujan deras dan memutuskan berkemah disana. saya dan Kunto yang masih lapar karna makan seadanya berharap mereka membawa logistik, dan ternyata mereka pun hanya membawa cemilan, tidak masalah. Entah mengapa kali ini saya  tidak ingin ke puncak, saya  ingin tinggal saja di Sabana 1 menikmati udara yang segar dan hangat, sangat membuat tidak ingin sebentar di Sabana 1 ini. saya pun sempat menuliskan sedikit sajak disini.

Untuk menuju puncak masih harus melewati 2 bukit dan 2 lembah yang terdiri dari bukit menuju Sabana 2, lembah Sabana 2 yang terdapat hutan edelewis, bukit puncak bayangan, lembah puncak utama kemudian puncak utama. Akhirnya hanya Riski, Anas dan Randy saja yang menuju puncak dengan Kunto juga yang ingin mencari kelompoknya. Sementara saya dan Dita berjalan-jalan di Sabana 1 untuk berfoto sampai akhirnya kami memutuskan untuk turun ke pos 3 batu tulis dengan maksud memasak,

Sekitar pukul 14:00 wib, Riski, Anas dan Randy sampai di tenda pos 3 dan kami semua makan siang seadanya, bukan masalah makanannya tapi kebersamaan kami lah yang mengeyangkan batin kami. setelah makan dan selesai packing, tepat pukul 16:00 wib kami mulai berjalan turun dan melakukan foto bersama. Kali ini kami menggunakan jalur yang berbeda yang lebih cepat namun tetap menuju basecamp Selo dan benar saja, kami hanya membutuhkan waktu 2 jam untuk sampai di basecamp. Istirahat, bersih-bersih dan makan, kami lakukan dibasecamp yang memang menyediakan fasilitas tersebut. Sepanjang perjalanan kami turun pun masih banyak pendaki yang baru mulai pendakian, Merbabu memang banyak didatangi setelah Merapi dan Slamet ditutup untuk pendakian.

Masih banyak cerita sebenarnya yang belum saya tuliskan.Hanya saja, rasanya dada ini sudah cukup puas untuk menceritakan sebagian banyak perjalanan kami, sisanya? ayo kita berpetualang bersama dan rasakan apa yang saya  maksud, hal-hal bernilai yang tidak pernah bisa disejajarkan dengan uang jumlah berapapun,,,,ya…canda tawa, kebersamaan, persahabatan dan cinta ada diperjalanan kami. Puncak gunung hanya bonus, yang paling terpenting adalah kebersamaan dan berbagi dengan alam kuncinya.

Jika ada hal yang aku pikirkan tentang keindahan

Ini tidak berbicara tentang wujud dan nilai

Tapi tentang kepuasan pengisi rongga-rongga setiap jarak antar tulang

Pengisi warna kehidupan setiap tarikan nafas

Canda tawa, Kebersamaan, Persahabatan dan Cinta

Yang mengalahkan letihnya pijakkan kaki yang mulai terkulai

Lebih dari perbincangan yang biasanya datang dan pergi dan selalu berganti

Suatu saat cerita diketinggian ini akan kubawa kepada para keturunanku

Agar mereka mengerti bahwa para pendahulunya lebih dari sekelompok petualang biasa

Lebih dari sekelompok anak muda biasa

Lebih dari sekelompok penikmat pagi siang dan malam

Karena kami berbicara tentang lebih dari segudang uang & perhiasaan

-@apriyadisukarya –

Image

 

Image

 

Image

Image

Image

 

Image

 

Image

Image

Advertisements

2 thoughts on “Catatan Merbabu 28 – 31 Maret 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s